Photog by Peter Vidani
Powered by Tumblr

"ada banyak cara untuk mencintai, salah satunya dengan bersedia menunggu"

kurniawan gunadi

selamat hari libur , dan tetap produktif :)

reblog dari icon

kalo nunggu, tercapai, indahnya ga keitung lagi :’)

(Source: kurniawangunadi, via max-tollenaar)




for-redheads:

Murilo Maciel - Distressed Beauty
mrdiv:

cage

mrdiv:

cage

Kejaran Pribadi, 8 Mei 2012

Sebelum memasuki kepala dua, saya harus sudah:

1. Memahami dengan betul jati diri apa yang saya akan bawa untuk mencapai kesuksesan nanti,

2. Dari jati diri tersebut, saya akan mencari apa yang sangat ingin saya lakukan atau perbuat di dunia ini.

Semoga terlaksana.

Drawing Pen; Sifat Alami, 3 April 2012

               Setelah beberapa lama vakum dari dunia kata-kata, kejadian hari ini membuat hati tergelitik untuk menulis lagi. Kejadiannya bermula dari suatu hal kecil, drawing pen. Sebelum masuk ke inti cerita, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendeskriditkan suatu suku atau menaikkan level suku lainnya.

               Yak, singkat kata saya membeli drawing pen ke Toko 1. Setelah memilih drawing pen seharga 5500 rupiah, saya menyodorkan uang berwarna biru pada pemiliknya. Bukannya kembalian yang didapat, malah pertanyaan, “Teu aya nu alit? (Tidak ada uang kecil?)”. Kecewanya setengah mati. Bukan hanya itu, si pemilik toko melanjutkan perkataannya, “Dijajanin dulu aja uangnya”. Bukan hanya ekspektasi tinggi akan drawing pen yang saya punya, tapi juga kekecewaan akibat perilaku saudara satu suku yang membuat sedih hari ini. Dimana jargon pembeli adalah raja? Alih-alih mencari kembalian, si empunya toko malah menyuruh saya jajanin uang dan kembali lagi. Daripada proses makan hati makin banyak, saya putuskan untuk mencari tempat lain.

               Sampai Toko 2, saya disambut pertanyaan, “Cari apa mas?” dengan logat medok khas Jawa tengah ke timur. Selesai memilih, saya kembali sodorkan uang biru tadi, dan dengan cepatnya saya mendapat kembalian. Dua komparasi ini membuat saya berfikir, inikah sifat alami dari kedua suku tersebut? Tapi sejauh ini memang itu yang saya rasa selama berinteraksi dengan kedua suku tersebut. Ya, separuh darah Suku 1 dan separuh darah Suku 2 membuat saya sering berinteraksi dengan kedua suku tersebut. Yang ingin saya tekankan adalah, jangan pernah berfikir dua kali untuk menghilangkan sifat-sifat keledai dari hidup kalian. Karena tiap kalian berfikir ulang, keledai kalian pun akan melenguh semakin kencang. Mungkin sebagian bingung akan isi tulisan ini, namun saya berharap kalian tetap bisa menyimpulkan apa isinya. Pada awalnya, saya hanya ingin berbagi mengenai sedikit sifat yang ada dari kedua suku tersebut. Namun interpretasi tetap berdasarkan pola pikir dan sudut pandang masing-masing.

               Sebagai penutup, saya akan mengutip suatu ayat Al-Qur’an yang sangat menginspirasi.

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib baik sesuatu bangsa, kecuali mereka sendiri yang merubahnya jadi bernasib buruk.
- QS. 13:11

Regards.

Soekarno Baru, 3 Maret 2012

Tulisan ini berawal dari sebuah kekecewaan diri pribadi terhadap kondisi saat ini. Dipancing dengan kejadian dari kemarin hingga hari ini yang menyadarkan bahwa ada yang tidak beres dengan keadaan negara ini.

Siapa tak kenal pria hebat digambar ini? Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Pria hebat yang dikenal karena kemampuan memimpin yang luar biasa, ditunjang dengan kekuatan besar di tiap pidatonya. Semalam saya memimpikan beliau kembali menjadi orang nomor satu di Indonesia. Kemudian tadi bagi saya mendapat banyak hal setelah menonton suatu acara pada sebuah stasiun televisi swasta yang menampilkan profil beliau. Ya, pada zamannya Indonesia kuat, cukup kuat hingga bisa berkawan dengan Amerika, namun bukan dikuasai seperti saat ini. Cukup kuat hingga saat Indonesia diinjak-injak Malaysia, pemimpin Indonesia lantang teriakkan “Ganyang Malaysia!”, tegas dan berwibawa. Mungkin bukan cuma pribadi ini yang merindukan masa jaya itu, namun semua kepala yang menginjak nusantara ini.

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

-  Bung Karno

Sepenggal kalimat dari pidato Bung Karno pada HUT Indonesia pada tahun 1966 ini mengingatkan kita pada borok bangsa ini. Namun disertai ide konkrit untuk menyelesaikannya. Kita jelas membutuhkan sosok pemimpin kuat seperti beliau untuk membangkitkan kepercayaan di tiap hati masing-masing penghuni tanah Indonesia ini. Sosok pemimpin yang mampu merangkul tiap insan untuk membangkitkan Indonesia dari tidurnya.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.”

- Bung Karno

Sekali lagi, tantangan dari beliau untuk bangsa ini. Resapi. Rasakan semangatnya. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika dahulu Indonesia pernah jaya, mengapa saat ini hingga ke depan tidak? Regards kawanku. Satu perjuangan bersama, untuk Indonesia tercinta.



woodendreams:

(by sunfishandbluecrabs)
Kiaracondong, 20 Februari 2012

Kiaracondong. Mungkin dan seharusnya semua orang Bandung tulen tahu tempat ini. Entah dikenal karena pasarnya, stasiunnya, fly-overnya, atau bahkan macetnya sekalipun. Apapun itu, Kiaracondong memang banyak cerita kawan.


Ini dia salah satu fenomena wajar di Kiaracondong, terlebih disaat “Happy Hour”. Ma to the cet. Banyak aspek yang menurut saya pribadi bikin macet di Kiaracondong. Pertama, pasar. Kedua, pabrik garmen yang ada di bibir fly over. Keduanya punya satu persamaan yaitu pergerakan manusia secara “massive”. Pasti terbayang ketika sekumpulan kendaraan berasap bertemu dengan ibu-ibu yang dengan riangnya menyebrang sambil ngobrol. Bukan bermaksud mendiskreditkan ras tertentu, tapi sejauh ini saya melihat, itulah yang terlihat. Yah, ini memang masalah besar. Mengapa? Karna terjadi tiap hari dan mengurangi efektifnya waktu para pengguna jalan. Alternatif saat ini? Lewat jalur Gatsu - Laswi, mungkin itu yang paling efektif sampai ada permasalahan baru hingga alternatif itu tidak lagi solutif.

Indah bukan? Ya, inilah Stasiun Kiaracondong dan inilah pengalaman yang saya alami tiap hari di tengah penat perjalanan menuju Kampus Gajah. Perjalanan berangkat tidak selalu menjemukan kawan, karena saat awan ceria inilah yang terjadi. Terlebih timbul suatu kepuasan tersendiri jika kita melintas ketika ada kereta yang datang maupun berangkat. Meskipun Stasiun Kiaracondong terkesan kalah pamor daripada Stasiun Bandung, tapi tanpa tempat ini selalu tanpa lelah membantu usaha orang sekitar tiap harinya.

Sekian tulisan ini. Tidak jelas tujuannya? Tentu tidak. Saya hanya ingin Kiaracondong bisa berbenah diri lebih baik, karena mau tidak mau, tempat ini sangat menjadi tempat bergantung banyak orang. Sekedar oleh oleh sebelum pamit.

Regards, Kiaracondong.


Depresan, 13 Februari 2012

Biarkanlah saya memulai sedikit cerita ini dengan satu kalimat kuat yang berasal dari orang yang besar.

“Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan sebuah lilin.”

- Tizar Bijaksana, Presiden KM ITB

Sebuah kalimat motivasi yang setipe dengan apa yang sering didengung-dengungkan oleh motivator ulung layaknya Mario Teguh dan Tung Desem Waringin. Sebelum hari ini datang, kalimat itu selalu menjadi penguat batin yang mulai goyah. Tapi hari ini membuat semua keyakinan itu bergerak tidak pada tujuannya. Timbul pertanyaan-pertanyaan retoris dalam hati yang terus mengganggu malam ini dengan topik utama “Apa saya kurang berusaha? Apa saya hanya pantas mendapatkan ini saja?”. Ah, mungkin ini hanya sementara saya pikir. Tapi penguatan keyakinan itu hanya bertahan sesaat sampai pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan. Namun semua itu membuat saya sadar bahwa saya masihlah seorang mahasiswa bermental remaja labil yang masih mudah kalah oleh kondisi yang hanya “sedikit” sulit bila dibandingkan kondisi diluar sana. Ya, sebelum tulisan ini berubah haluan menjadi suatu curahan hati, biarkan saya menutup dengan suatu kalimat, sama seperti yang saya lakukan untuk membuka tulisan ini.

“Perkuat paradigma dan perbanyak sudut pandang, karena itu sudah tercapai, pastilah kamu menjadi orang yang kuat dan mampu menguatkan orang di sekelilingmu.”

- Hanif Santyabudhi

Regards.